| Portal berita | Technologi Information |
Teknik Komputer |

Sunday, November 4, 2012

On 4:03:00 PM by Unknown in    No comments
Bagi muslim, meragukan ke otentikan Al Qur'an adalah masalah yang sangat serius, artinya Imannya lemah bahkan bisa dikatakan tipis. Kalau tipis itu artinya sebentar lagi habis, lama-lama murtad dan bisa di anggap kafir. Apalagi kalau kemudian dia mulai melirik agama lain atau malah bikin sempalan misalnya contoh ; Islam kejawen wah semakin murtadin dan itu hukumannya berat. Islam ya cuma satu tanpa embel-embel di belakangnya. Tapi mengapa orang Jawa itu kreatif sekali menambahkan atribut di belakangnya dengan Kejawen ? Kalau saya amati itu sekedar membedakan dengan Arab saja, kalau Arab liar kalau Jawa lembut kalem. Bahkan hukum-hukum Islam yang keras juga diminimalisasi bahkan tidak dipakai ketika memasuki ranah Jawa.

Tiada kitab di dunia ini yang diagungkan sebegitu murninya kecuali Al Quran karena itu dianggap suara Tuhan langsung kepada Nabi. Kalau jaman sekarang itu diibaratkan sebuah Flash Disk dijatuhkan Tuhan dari langit mak gedebuk, sampai ke bumi lalu di print masal lalu di bagi-bagikan ke manusia-manusia berbagai macam suku ke seluruh penjuru dunia. Pengertiannya seperti itu. Makanya kitab tersebut mati-matian di bela karena suci murni dan asli, di cintai, di hormati di agungkan melebihi keagungan Tuhan itu sendiri. Tuhan pun tersisih, tidak pernah di bawa-bawa lagi sebagai acuan menyelesaikan masalah dengan lemah gemulai dan santun. Patokannya kitab, kalau di kitab bilang di bunuh ya di bunuh, di bakar ya di bakar. Itu legal karena itu suara Tuhan.

Al Quran Tertua




Di Sana'a, ibu kota Yaman, pada th 1972 di temukan sebuah kumpulan naskah dalam jumlah yang sangat besar di ruang atas dekat atap. Seluruh tumpukan naskah ini berada diantara tumpukan karung kentang. Tumpukan naskah itu tetap akan tidak diketahui jika saja Dr. Gerard Puin tidak datang ke tempat itu 7 tahun kemudian. Dr. Gerard Puin (http://en.wikipedia.org/wiki/Gerd_R._Puin) adalah ilmuwan Jerman yang ahli Qur’an. Seorang pakar filologi dan ahli bahasa-bahasa Semitis pakar kaligrafi Arab dan paleografi Alquran dari Universitas Sarre, Jerman.

Empat pecahan naskah penemuan Puin berisi bagian terakhir Al Qur’an. Dan tidak seperti kitab yang ada sekarang, naskah itu terdapat gambar mesjid. Hal ini merupakan bukti penting keaslian naskah tersebut.



Berdasarkan penelitian lebih lanjut di ketahui bahwa mushof tersebut adalah Al Quran paling tua di dunia di tulis pada abad ke tujuh dan ke 8. Jika penelitian ini benar, terutama menyangkut tahun, maka ini berarti Al Qur’an tidak disusun oleh sahabat-sahabat nabi sebagai satu rangkuman dan satu keseluruhan di tahun 650M, tapi dikembangkan bertahun-tahun lamanya setelah itu.

Untuk diketahui, hingga saat ini, ada tiga "copy" mushaf Alquran yg sudah ditemukan yaitu dua mushaf Alquran abad ke-8, masing-masing disimpan di Perpustakaan Tashkent, Uzbekistan, dan di Museum Topkapi di Istanbul. Mushaf ketiga berupa manuskrip Ma'il dari abad ketujuh, disimpan di British Library, London, Inggris.

Sejarah Pengumpulan Al Qur'an


Carut marut pendapat pengumpulan naskah-naskah kitab menjadi 1 kesatuan bukan hanya membingungkan generasi sekarang, karena generasi tua pun sudah mengalami kebingungan yang sama. Ada yang mengatakan bahwa qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf hingga setelah nabi SAW meninggal ditahun 11 H / 632 M. (Sumber ; Fath al Bari 13th vol Ahmad b. Ali b. Muhammad al 'Asqalani, ibn Hajar Cairo 1939, vol. 9, p.9 [Zaid b. Thabit berkata:] "Nabi wafat dan Qur’an belum dikumpulkan dalam satu tempat ")

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa nabi SAW telah mengumpulkan satu Al Quran selama hidupnya. Kemungkinan terbesar adalah saat tahun-tahun awalnya di Madinah. (Sumber : Zarkashi, al Burhan fi ulum al Quran, vol 1 p 235, 237-38, 256, 258) Pernah di sebutkan nabi memberitahukan kepada Ali tempat penyimpanan kitab Az-Sanjani, Tarikh, p 66 Diriwayatkan bahwa nabi SAW pernah berkata kepada Ali : “Hai Ali, al-Qur’an ada dibelakang tempat tidurku, (tertulis) di atas suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan kumpulkanlah. Ali menuju ketempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning.

Okelah kita tidak perlu mempermasalahkan sejak kapan pencatatan kitab ini dilakukan, yang jelas 2 tahun setelah nabi wafat banyak terjadi pertempuran2 yang mengakibatkan penghapal kitab menghilang. Bisa di tawan bisa juga wafat. Dikutip dari : Muqadimah Al-Qur’an Halaman 23 Diantara peperangan-peperangan itu yang terkenal adalah peperangan Yamamah. Tentara Islam yang ikut dalam peperangan ini kebanyakan terdiri dari para sahabat dan para penghafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini telah gugur 70 orang penghafal Al-Qur’an. Bahkan sebelum itu gugur pula hampir sebanyak itu dari penghafal Al-Qur’an di masa nabi pada suatu pertempuran di sumur Ma’unah dekat kota Madinah

Khawatir jika sebagian besar kitab lenyap bersamaan dengan meninggalnya penghafal, Abu Bakar, khalifah pertama memerintahkan pengumpulan Al Qur’an. Sahabat-sahabat nabi dan penghafal qur’an diminta untuk datang dan menginformasikan apa yang mereka ketahui baik bahan tertulis maupun hafalan. Abu Bakar memerintahkan Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit untuk duduk dimuka pintu masuk masjid di Medina dan menuliskan setiap ayat atau bagian qur’an dimana setidaknya dikuatkan oleh kesaksikan 2 orang. Dalam satu kasus khusus, kesaksian 1 orang dianggap cukup yaitu dalam kasus 2 ayat terakhir dari surah 9 dimana hanya ditemukan pada Abu Khuzaima. (Sumber : Bukhari, Sahih, vol 3 p 392-93.)

Namun sebenarnya bukan hanya Abu Bakar yang berinisiatif mengumpulkan naskah-naskah Al Qur'an itu dalam satu kitab, setidaknya ada 7 versi pengumpulan pertama Al-Qur’an :
  1. Umar = Versi ini yang paling umum diterima dimana menyebutkan bahwa ide pengumpulan adalah berasal dari Umar yang dia sampaikan kepada Abu Bakar. Bukhari, Volume 006, Buku 061, Hadis nomor 509
  2. Abu Bakar (di atas)
  3. Ali = Ada juga banyak laporan bahwa setelah nabi SAW meninggal, Ali bersumpah untuk tidak keluar dari rumah hingga berhasil mengumpulkan seluruh qur’an dalam satu mushaf. Ali bahkan tidak hadir saat pelantikan Abu Bakar sebagai khalifah pengganti kepemimpinan nabi SAW. Sumber : Ibn Sa’d, Kitab al Tabaqat al Kabir, vol 2 p 338
  4. Salim = Laporan lainnya menyatakan bahwa orang pertama yang mengumpulkan Qur’an adalah Salim, salah satu pelanggan Abu Hudayfa. Sumber : Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 205,
  5. Umar = Karena Abu Bakar menolak mengumpulkan Al-Qur’an dengan alasan nabi tidak pernah melakukannya, maka Umar mengambil inisiatif sendiri untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan menuliskannya sendiri. Kemudian Umar memerintahkan 25 orang Quraish dan 50 orang Anshar untuk menyalinnya dan mengajukannya kepada Said ibn al Ash. Jadi disini tidak ada peran Usman dan Zaid bin Tsabit sama sekali.
  6. Umar = Akibatnya muncullah laporan lain untuk menyelaraskan pertentangan ini dengan menyebutkan bahwa pengumpulan dilakukan oleh khalifah Umar, namun beliau meninggal sebelum pengumpulan selesai. Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Usman yang berhasil mengumpulkan quran yang resmi dalam satu mushaf. Dikutip dari : Abu Hilal al Askari, vol 1 p 219
  7. Usman = Pengumpulan dilakukan oleh khalifah Usman. Jadi dalam hal ini sama sekali tidak ada peran dari Abu Bakar dan Umar dalam proses pengumpulan Al-qur’an Sumber : Ibn Asakir, Biography of Uthman, p 170

Ada versi pengumpulan yang tertuang di dalam hadist dan ini lah yang sepertinya diterima oleh umum Sahih Bukhari Volume 6, Buku 61, Nomor 510 :

Dikisahkan oleh Anas bin Malik : Hudhaifa bin Al-Yaman menghadap Usman. Ia tengah memimpin penduduk Siria dan Irak dalam suatu ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Hudhaifa merasa cemas oleh pertengkaran mereka (penduduk Siria dan Irak) tentang bacaan Al-qur’an. Maka berkatalah Hudhaifa kepada Usman : “Wahai Amir Al-Mu’minin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertikai tentang Kitab (Allah), sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani pada masa lalu.” Kemudian Usman mengirim utusan kepada Hafsa dengan pesan : “Kirimkanlah kepada kami shuhuf yang ada ditanganmu, sehingga bisa diperbanyak serta disalin ke dalam mushaf-mushaf, dan setelah itu akan dikembalikan kepadamu.” Hafsah mengirim shuhufnya kepada Usman. Usman kemudian memerintahkan Zaid bin Thabit, 'Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan 'AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang manuskrip dengan sempurna. Usman berkata kepada ketiga orang Quraish, “Jika kamu berbeda pendapat dengan Zaid bin Thabit, maka tulislah dalam dialek Quraish karena Qur’an diturunkan dalam dialek tersebut. Mereka melakukannya dan kemudian membuat beberapa copy. Usman mengembalikan mushaf asli kepada Hafsah. Mushaf-mushaf salinan yang ada kemudian dikirim Usman ke setiap provinsi dengan perintah agar seluruh rekaman tertulis al Qur'an yang ada - baik dalam bentuk fragmen atau kodeks - dibakar habis. Zaid bin Thabit berkata, “Satu ayat dari sura Ahzab hilang olehku saat kami mengcopy Qur’an dan aku biasa mendengar Rasulullah membacanya. Maka kami mencari ayat tersebut dan menemukannya pada Khuzaimah bin Thabit Al ansari. Ayat tersebut adalah : “Diantara orang-orang mumin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. (33 : 23)

Jadi Usman saat menjabat khalifah meminjam suhuf dari Hafsa dan kemudian menyalinnya dan menjilid dalam satu buku qur’an. Usman membuat beberapa copy dan dikirim ke beberapa daerah Islam dan kemudian memerintahkan pembakaran semua salinan Al Qur’an yang lainnya dimanapun ditemukan.

Menurut Sumber : Muqadimah Al-Qur’an Bab Satu, halaman 25 alasan Usman membuat satu standar Al-Qur’an yaitu karena adanya perbedaan Al Qur'an antara pengikut Ibn Mas'ud (Prajurit Irak) dan Ubay Bin Kaab (Prajurit Syiria) sebagaimana dilaporkan oleh Huzaifah bin Yaman

Tindakan Usman membakar salinan Al-Qur'an ini tidaklah disetujui secara aklamasi oleh komnitas muslim awal. Sumber : Abi Dawud Kitab al-Masahif; dan al-Tabari, buku 1, chpt. 6, no. 2952 : Proses pembakaran terhadap salinan Qur’an yang ditulis oleh para saksi mata oleh Usman ini tidaklah disetujui oleh komunitas muslim secara umum. Mereka menyatakan bahwa Usman telah memusnahkan kitab Allah karena sesungguhnya Al Qur’an adalah dalam banyak bentuk, dan Usman telah memusnahkan semuanya kecuali satu.

Al Qur'an sebagai hasil pengumpulan dari usman ini di simpan di KAIRO



Hilangnya beberapa Naskah


Dalam proses penyatuan Al Quran tersebut bukanlah mulus seperti naik mobil di jalan tol, penuh keruwetan kebingungan bahkan ternyata malah di katakan Al Qur'an yang ada sekarang ini konon tinggal 1/3 nya saja, banyak yang hilang. (saya masih mencari di mana sumber pustaka yang bisa dipercaya mengatakan jumlah pas 1/3 itu) selama belum ketemu sumber yang dipercaya, saya katakan angka tersebut cuma mitos saja.

Lalu bagaimana dengan nasib lembaran-lembaran Al Quran yang dkumpulkan pada jaman Abu Bakar - Zaid bin Tsabit ? lembaran ini ternyata tetap ditangan Abu Bakar sampai dia meninggal, kemudian dipindahkan ke rumah Umar bin Khattab dan tetap ada di sana selama masa pemerintahannya. Sesudah Umar wafat, lembaran itu dipindahkan ke rumah Hafsah (puteri Umar sekaligus istri Nabi). Yang membingungkan mengapa lembaran itu cuma disimpan saja dan tidak di sebar luaskan kepada masyarakat umum. Supaya bisa di hapal. Bukankan maksud di kumpulkannya lembaran-lembaran Al Quran adalah untuk menanggulangi kekhawatiran musnahnya hapalan Al Quran akibat peperangan ?

Yang membingungkan lagi lembaran-lembaran “asli” yang dikoleksi oleh Abu Bakar - Umar - Hafsah yang seharusnya menjadi dasar penyusunan mushaf Usman inipun pada akhirnya dimusnahkan oleh Marwan bin Al-Hakam. Berita ini berdasarkan Studi Ulumul Qur'an, Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah Pustaka Setia, Juni 2003, halaman 40. Sepulangnya dari mengiring jenasah Hafsa, Marwan ibn Al-Hakam mengirim surat kepada saudara Hafsah, Abdulah ibn Umar, untuk mengirimkan mushaf-mushaf itu kepada Marwan dan menyuruhnya untuk merobek-robek mushaf tersebut Dia berkata, "Saya lakukan hal ini karena khawatir, ketika zaman berlalu atau dikemudian hari, manusia akan meragukan keadaan ini."

Apakah Marwan tahu kalau lembaran-lembaran asli itu tidak sama ketika dibandingkan dengan copy an yang di tuliskan ulang pada jaman Usman dan Zaid bin Thabit (Sahih Bukhari Volume 6, Buku 61, Nomor 510)? atau telah berubah dari aslinya atau ada unsur politik tertentu ? Belum ada jawaban yang pasti ketika saya cari2 di pustaka-pustaka media.

Siapakah Marwan bik Al-Hakam ? Dia adalah Khalifah Bani Umayyah http://id.wikipedia.org/wiki/Marwan_bin_al-Hakam

Saya kira ini alasan Marwan merobek Mushaf yang distandarisasi oleh Usman ditulis dalam bahasa Arab yang masih sangat sederhana, dimana :
1. Tidak ada tanda baca
2. Tidak ada indikasi huruf hidup
3. Tidak ada pembeda konsonan yang bersimbol sama (15 konsonan bisa dibaca menjadi 28 konsonan yang berbeda)

Karenanya tulisan mushaf Usman tersebut bisa dibaca dengan berbagai macam cara yang berbeda-beda. Tergantung penambahan huruf hidupnya dan penambahan titik diakritis terhadap konsonannya. Akibatnya timbullah bermacam-macam variasi bacaan, maka lagi-lagi harus dilakukan standarisasi pasca Usman :

Untuk mengatasi Varian-varian bacaan yg semakin liar, pada tahun 322 H (944 M), Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding2kan semua mushof yg ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni :
1. Nafi (Madinah)
2. Ibn Kathir (Mekah)
3. Ibn Amir (Syam)
4. Abu Amr (Bashrah)
5. Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.” Adanya perbedaan tulisan Al-Qur’an ini dilaporkan juga oleh seorang ulama yaitu ibn al-Nadim di tahun 988 M. Sumber : Fihrist, Ibn al-Nadim, halaman 79

Sebelum menelaah lebih lanjut saya rangkum beberapa carut marut dalam pengumpulan lembaran-lembaran Al Qur'an menjadi 1 kesatuan :
  1. Laporan Umar --> Umar mencari ayat tertentu yang hanya diingatnya samar-samar. Namun dengan menyesal akhirnya Umar menemukan bahwa orang yang menghafal ayat tersebut telah terbunuh dalam perang Yamama sehingga ayat tersebut hilang selamanya. Ia mengekspresikan rasa kehilangannya dengan mengucapkan inna li-llahi wa inna ilayhi raji un, lalu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sehingga Umar adalah orang yang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an kedalam mushaf. Sumber : Ibn Abi Shayba, vol 14 p 564, ekspresi yang digunakan adalah Faqadnah, artinya “kita kehilangan ayat tersebut” Atau mungkin hilang, termasuk didalamnya adalah ayat tentang kewajiban terhadap orang tua Sumber : Bukhari, vol 4 p 306 lalu ayat tentang tentang jihad Sumber : Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 403
  2. Ayat tentang Hukum Rajam--> Sumber Bukhari: vol. 8, hadis 817, halaman 539-540; buku 82 dan diantara yang dinyatakan Allah adalah ayat-ayat tentang Rajam, dan kami telah menghafalkan dan mengerti ayat-ayat tersebut. Rasul Allah melakukan hukuman ini begitu juga kami. Saya khawatir bahwa setelah waktu lama berlalu, seseorang akan berkata, Demi Allah, kami tidak menemukan ayat-ayat Rajam dalam buku Allah” Tetapi Umar tidak dapat meyakinkan sahabat-sahabatnya untuk memasukkan ayat rajam kedalam AL Qur’an sebab tidak ada yang mendukung pendapatnya. Sumber : Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 206 Menurut laporan Suyuthi dala Al-Itqan, ayat rajam ini dilaporkan ada dalam mushaf Ubay bin Ka’b dan ditempatkan di sura 33. Bunyi ayat ini adalah :Apabila seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa berzina, maka rajamlah keduanya,itulah kepastian hukum dari Tuhan, dan Tuhan maha kuasa lagi bijaksana.
  3. Laporan Aisyiah --> Aisha melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran yang berisi 2 ayat, termasuk ayat-ayat rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman nabi SAW, seekor binatang memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam bahasa Arab “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba ataupun unggas. Sumber : Ibrahim b. Ishaq al Harbis, Gharib al hadith menyebutkan “shal” yang berarti domba. Aisha juga menyatakan bahwa saat nabi SAW hidup, sura 33 (al-Ahzab) adalah 3 kali lebih panjang daripada yang ada dalam mushaf Usman. Sumber : Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434. Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 226 Kutipan dari Suyuthi :Aisyah berkata, "Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah sebanyak 200 ayat, tetapi pada masa Usman menulis mushaf surah tersebut tinggal 173 ayat saja"
  4. Laporan Anas Bin Malik ---> Ada satu ayat yang turun saat beberapa muslim terbunuh dalam perang, tetapi kemudian hilang. Sumber : Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 399 Ayat yang diingat Anas bin Malik adalah :Sampaikanlah kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu Tuhan kami, dan Dia ridha kepada kami serta kamipun ridha kepadaNya.
  5. Laporan Abdullah bin Umar --> Sumber : Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 81-82 Yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar adalah :Sungguh seorang diantara kamu akan berkata, “Saya telah mendapatkan Al-Qur’an yang lengkap.” Dan tidak mengatahui taraf kelengkapannya. Sesungguhnya banyak bagian Al-Qur’an yang telah hilang, dan karena itu seharusnya ia berkata, “Saya telah mendapatkan yang masih ada”
  6. Laporan Hudhayfa --> Hudhayfa b. al-Yaman yang menemukan sekitar 70 ayat tidak tercantum dalam mushaf Usman. Ayat-ayat yang biasa dibacanya saat nabi SAW masih hidup. Sumber : Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180, mengutip dari Bukhari, Kitab at Tarikh. Hudhayfa juga meyakini bahwa Sura 9 (al-Bara'a) dalam mushaf Usman hanyalah ¼ dari yang biasa dibacakan saat nabi SAW masih hidup. Sumber : Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 331. Dilaporkan juga bahwa Suras 15 (al-Hijr) and 24 (al-Nur) seharusnya lebih panjang dari yang tercantum dalam mushaf Usman. Sumber : Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108
  7. Laporan Abu Musa --> Abu Musa al-Ash'ari mengingat keberadaan 2 sura yang panjang dimana hanya satu ayat dari 2 sura itu yang dia masih ingat. Namun 2 sura itu tidak ada dalam mushaf Usman. Sumber : Muslim, vol 2 p 726 dan Bayhaqi, Dalai, vol 7 p 156
  8. Laporan Ibn Abas --> Dikutip dari Sahih Muslim no. 2285 Ibn Abbas melaporkan bahwa rasulullah berkata, “Jika anak Adam memiliki timbunan kekayaan, dia akan mencari yang berikutnya, dan dia tidak akan merasa kenyang kecuali dengan debu .....
  9. Laporan Maslama b. Mukhallad al-Ansari --> Maslama menyebutkan 2 ayat lagi yang tidak terdapat dalam mushaf Usman. Sumber : Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 84 Ayat yang dimaksud berbunyi : 1. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, maka bergembiralah kamu, karena sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang beruntung 2. Dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan membantu serta berperang bersama mereka melawan kaum yang dikutuk Tuhan, maka tak satu jiwapun yang mengetahui apa yang disimpankan untuk mereka dari berbagai hal yang menyenangkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang mereka lakukan. Dan Aisha melengkapi dengan ayat yang ke 3. Sumber : Abd al Razzaq, vol 7 p 470
  10. Laporan Ibn Mas’ud --> Suyuthi, al Itqan fi Ulum al Quran, vol 1 p 224, 226, 270-73 Menurut laporan Suyuthi : Ibn Mas’ud menolak memasukkan surah 1, 113 dan 114, karena sura-sura tersebut adalah doa-doa dan mantera untuk mengusir setan. Hal ini diperkuat dengan laporan dari al Razi, al Tabari dan Ibn Hajar. Namun ada beberapa kata dan kalimat dalam mushaf Mas’ud yang tidak terdapat dalam mushaf Usman
  11. Laporan Usman --> kesalahan mushaf ternyata diketahui juga oleh Usman, laporannya adalah sbb : Biographical Dictionary Ibn Khallikan, p. 401 : Abu Amr menyatakan bahwa dia mendengar kisah ini dari Katada as Sadusi : “Ketika mushaf Usman ditulis dan diserahkan kepada Usman bin Affan, dia berkata, ‘Ada kesalahan-kesalahan bahasa didalam mushaf, tetapi biarkan orang-orang Arab di padang pasir memperbaikinya dengan pengucapan mereka.

Seorang pakar Al-qur’an di Indonesia yaitu DR. Quraish Shihab dalam pengantarnya untuk buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an karya Taufik Adnan Amal, FKBA, 2001, berkata sbb : halaman xvii Artinya, masih diperlukan upaya-upaya serius untuk "mengakhiri" berbagai hal yang menyelimuti sejarah al-qur'an..................

Sementara seorang pakar muslim dari Libanon, DR Subhi as Shalih berpendapat :
Membahas Ilmu Ilmu al-Qur'an DR. Subhi As Shalih Pustaka Firdaus, April 2001, hal 1 : ada banyak riwayat dan pendapat dalam kitab-kitab sebelumnya yang saling bertentangan hal-hal yang kontradiktif tadi merupakan sumber penyakit dan pangkal musibah bagi umat Islam.

Sementara seorang pemikir muda yaitu Sumanto Al-Qurtuby yang juga adalah Direktur Eksekutif ILHAM Institute berpendapat : Sumber : Lubang Hitam Agama Sumanto Al-Qurtuby Penerbit RumahKata, 2005, halaman 36 – 37 Menyadari realitas sejarah yang demikian, umat Islam bukan melakukan kritik diri sebaliknya membela mati-matian otoritas dan supremasi teks Al-Qur’an seraya menggembar-gemborkan sebagai teks yang otentik, asli, original, made in Tuhan, bukan teks palsu, imitasi seperti Bibel, Injil dan lainnya. Ini adalah bagian dari lelucon yang tidak lucu dari umat Islam yang katanya umat terbaik.

Ada sebuah cerita di hadist yang menggelitik bahwa sejak jaman nabi pun carut marut mengenai Al Qur'an ini sudah terjadi. Hadis Sahih Bukhari Volume 3, Buku 41, Nomer 601:

Dikisahkan oleh 'Umar bin Al-Khattab: Aku dengar Hisham bin Hakim bin Hizam melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caraku. Rasul Allah telah mengajarkan padaku (dengan cara yang berbeda). Lalu, aku hampir saja ingin bertengkar dengan dia (pada saat sembahyang) tapi aku tunggu sampai dia selesai, lalu aku ikat bajunya di sekeliling lehernya dan kuseret dan kubawanya menghadap Rasul Allah dan berkata, “Aku telah mendengar dia melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan yang kau ajarkan padaku.” Sang Rasul menyuruhku melepaskan dia dan meminta Hisham melafalkannya. Ketika dia melakukan itu, Rasul Allah berkata, “Itu (Surat-al-Furqan ) dilafalkan begitu.” Sang Rasul lalu meminta aku melafalkannya. Ketika aku melakukannya, dia berkata, “Itu dilafalkan begitu. Qur’an telah dinyatakan dalam tujuh cara yang berbeda, jadi lafalkan dengan cara yang mudah bagimu.”

Al-Qur’an Sekarang Adalah Hasil Tulis Ulang di KAIRO 1923


Upaya terakhir untuk menstandarisasi Al-Qur’an dilakukan di Kairo Mesir ditahun 1923/1924. Satu catatan yang unik adalah mushaf Kairo 1924 ini TIDAK DISUSUN DARI NASKAH KUNO YANG MANAPUN, melainkan DIKLAIM mendasarkan pada murni “HAFALAN”.

0 comments:

Post a Comment

Catatan:
• Dilarang menulis link aktif !
• Dilarang ngiklan di kolom komentar !
• Untuk menyisipkan kode, gunakan tag <i rel="code">... KODE ...</i>
• Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan tag <i rel="pre">... KODE ...</i>
• Untuk menyisipkan catatan, gunakan [catatan].. TEKS ...[/catatan]
• Untuk menyisipkan gambar, gunakan [img]URL GAMBAR[/img]>